- salah satu bentuk integrasi islam dan budaya lokal
Upacara dalam masyarakat jawa yang menjadi obyek dakwah Islam (dalam hal ini adalah tahlilan), merupakan suatu ritual budaya yang merupakan campuran dari kebudayaan animisme, Hindu, dan Buddha.
Perlu kita ketahui bahwa menurut mitologi animisme, Hindu, dan Buddha bahwa apabila seseorang itu meninggal dunia, maka pada malam harinya ruh si mati tersebut akan datang kembali lagi ke rumahnya untuk mengunjungi keluarganya. Dan bila di dalam rumahnya tersebut tidak diadakan upacara sesaji terhadap ruh gaib, laiknya ruh si mati tersebut, seperti membakar kemenyan, menyajikan sesajen dll maka ruh tersebut akan menghantui (semerup) kepda salah satu anggota keluarganya yang masih hidup.
Itulah sebabnya mengapa pada zaman dahulu, masyarakat Jawa sangat takut terhadap roh-roh karena (kembali lagi pada sifat masyarakat Jawa) mereka cenderung untuk menjaga keharmonisan dan keselarasan serta mencegah terjadinya konflik.(1.)
Upacara selamatan semacam itu diadakan pada malam pertama kematian si mayit, kemudian pada hari ketiga setelah kematian, lalu hari ketujuh, keseratus, 1 tahun setelah kematian, 2 tahun, dan yang terakhir yaitu pada hari keseribu setelah kematian.
Ritual semacam itu juga merupakan satu sisi dari mitologi Hindu, hal ini dibuktikan dengan :
“Tahun 2006 silam bertempat di Lumajang , Jawa Timur, diselenggarakan kongres Asia para penganut Hindu. Salah satu poin penting yang diangkat adalah ungkapan syukur yang cukup mendalam kepada Tuhan mereka, karena bermanfaatnya salah satu mitologi ajaran mereka yaitu peringatan kematian pada hari ke-1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 100, 1000 dan hari matinya tiap tahu, yang disebut Geblake dalam istilah Jawa, untuk kemaslahatan manusia.”(2.)
Pada zaman dahulu para penyebar Islam di tanah Jawa (walisongo) cenderung untuk menerapkan metode dakwah akomodatif yang merupakan cerminan kearifan para walisongo dalam menyikapi proses in-kulturasi serta akulturasi antara Islam dan budaya lokal.
Dapat kita ketahui bahwa pada zaman walisongo, budaya-budaya Hindu, Buddha, dn animisme sangat berurat akar dalam masyarakat Jawa yang mana budaya-budaya tersebut sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam. Akan tetapi Walisongo mampu menyikapi fakta tersebut dengan arif sehingga secara perlahan-lahan budaya-budaya tersebut bisa sejalan dengan ajaran Islam tanpa meninggalkan kultur asli masyarakat.
Hal diatas membuktikan bahwa berdakwah di tengah masyarakat yang mempunyai akar budaya lokal yang sangat kuat memerlukan stategi/perencanaan yang matang. Dimana tujuan akhir dari dakwah tersebut adalah merombak tatanan mesyarakat asal menuju masyarakat Islami tanpa adanya gejolak atau konflik horizontal secara berkepanjangan.
Sehingga tampak di masyarakat, wajah Islam di tengah-tengah mereka sebagai suatu ajaran yang ramah, toleran, penuh kedamaian serta mengedepankan keselarasan sosial. Itulah mengapa, Islam bisa diterima dengan mudah oleh suatu masyarakat (dalam hal ini Jawa). Karena metode dakwah yang digunakan tidak keluar dari jalur kultural masyarakat tersebut (Jawa).
Yang perlu kita garis bawahi disini ialah ternyata Islam secara dinamis mampu berintegrasi dengan kultur lokal dan membentuk suatu kultur baru yang selaras dengan kondisi sosial tanpa meninggalkan kultur lama.
Akhir-akhir ini kita sering mendengar adanya pertentangan dalam tubuh umat Islam antara kubu yang pro-tahlil melawan non-tahlil.
Mereka memperdebatkan budaya tahlilan dipandang dari sudut ajaran Islam. Apakah
tahlilan itu bid’ah atau bukan. Dilarang atau tidak. Mereka saling serang argumen. Tetapi uniknya, masing-masing dari mereka mempunyai dalil tekstual yang melegitimasi pendapat mereka masing-masing.
Jika kita mampu mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya serta bisa meletakkannya dalam proporsi yang benar, maka bersikap bijaksana adalah sesuatu yang baik bagi kita.
Kita bisa menarik satu benang merah bahwa sebenarnya yang menjadi pokok perdebatan panjang mereka, bukan kok diperbolehkan atau tidak diperbolehkannya tahlilan, bukan juga masalah bid’ah atau tidaknya tahlilan. Kiranya, metode dakwah-lah yang menjadi inti perdebatan mereka. Satu kubu berdakwah dengan langkah-langkah yang kaku. Dan kubu lain berdakwah secara stategis dengan cara menggandeng kultur budaya lokal.
Mungkin ada segolongan kecil dari masyarakat yang mampu menerima dakwah secara kaku. Akan tetapi, jika kita mengingat bahwa manusia itu merupakan makhluk berbudaya tentu kita secara logis akan menilai bahwa dakwah yang berjalan diatar rel kultur kemasyarakatan akan lebih mengena dan mampu diterima dengan baik oleh ummat.
Sekarang, giliran kita menilai. Manakah dakwah yang lebih sukses. Mereka yang kaku ataukah mereka yang dinamis? Selamat menilai.
Belum ada komentar.
Tinggalkan Balasan
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- Desember 2008 (3)
- Oktober 2008 (7)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS